Temu Nasional Ilmiah Ikatan Psikologi Klinis (10-11 Agustus 2017)

Dengan tema “Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis di Era Globalisasi: Tantangan Terkini bagi Psikolog Klinis untuk Meningkatkan Kompetensi” IPK kembali mengadakan Temu Ilmiah Nasional pada tanggal 10 – 11 Agustus 2017, bertempat di Hotel Amos Cozy Jakarta.

Info Tinas IPK 2017

Tinas IPK kali ini diawali dengan serangkaian workshop yang telah dimulai sejak tanggal 7 Agustus 2017. Tujuan penyelenggaraan workshop adalah sesuai dengan tema Tinas IPK, yaitu untuk meningkatkan kompetensi psikolog klinis di era globalisasi. Salah satu tantangan besar yang saat ini sedang dihadapi oleh para psikolog klinis di Indonesia adalah untuk memperoleh pengakuan dari Pemerintah sebagai tenaga kesehatan yang setara dengan profesi kesehatan yang lain (dokter, perawat, bidan, dsb). Oleh karena itu, proses belajar yang berkelanjutan dan upaya untuk terus mengembangkan profesi psikologi klinis menjadi tanggung jawab bersama, baik pengurus IPK Pusat dan Wilayah, serta seluruh anggota IPK di Indonesia.

Dalam Tinas IPK kali ini, untuk pertama kalinya, seluruh peserta yang hadir mengucapkan sumpah profesi sebagai psikolog klinis yang dipimpin oleh Ketua IPK Pusat, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si, Psikolog, dan disaksikan oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan. Selain itu, pada tanggal 12 Agustus 2017, juga diadakan uji kredensial bagi seluruh psikolog klinis yang berprofesi di Rumah Sakit.

Bagi rekan-rekan yang belum memperoleh kesempatan untuk menghadiri Tinas IPK kali ini, berikut adalah link untuk memperoleh materi yang disampaikan.

Semoga bermanfaat! (CE)

Advertisements

Pelatihan Peningkatan Kompetensi “Diagnosis Berdasarkan DSM 5” (11/2/17)

Dalam rangka menyambut tahun 2017, IPK Jatim berkeinginan untuk memulai tahun yang baru dengan berbagai hal yang istimewa bagi anggotanya. Salah satunya adalah dengan mengadakan pelatihan yang diberikan oleh anggota untuk anggota. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kompetensi anggota IPK Jatim dalam memahami dan menggunakan DSM 5 sebagai dasar penegakkan diagnosis pada klien. Narasumber yang hadir dalam pertemuan ini adalah Cicilia Evi, GradDiplSc., M. Psi., Psikolog – CH Widayanti, M. Si., M. Psi., Psikolog – dan Dedi Prasetiawan, S. Psi., Psikolog.

Materi diawali dengan tema DSM IV TR vs DSM V yang dibawakan oleh Cicilia Evi, GradDiplSc., M. Psi., Psikolog. Narasumber memaparkan secara sederhana perbandingan antara muatan dalam DSM-IV-TR dan DSM-V serta membahas secara singkat berbagai diagnosa baru, ataupun yang dihilangkan (materi dapat diunduh di sini).

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan materi Penatalaksanaan Klasifikasi dan Diagnosis Gangguan Mental yang dibawakan oleh Ibu CH Widayanti, M. Si., M. Psi., Psikolog dari RSUD Jombang (materi dapat diunduh di sini). Barulah kemudian Bapak Dedi Prasetiawan, S. Psi., Psikolog mengajak peserta berdiskusi kasus dengan menggunakan pendekatan 4P (predisposing factors, precipitating factors, perpetuating factors and protective factors – materi dapat diunduh di sini).

Acara yang luar biasa! Karena diberikan oleh anggota untuk kemajuan anggota yang lain. Semoga IPK Jatim dapat menjadi wadah yang mengembangkan kapasitas anggotanya secara berkala. (CE)

Rapat Anggota IPK Jatim (21/12/16)

Pertemuan hari ini merupakan pertemuan terakhir bagi para anggota IPK Jatim di tahun 2016. Beberapa tujuan diadakannya rapat anggota IPK Jatim adalah:

(1) Bagi pengurus – untuk menyampaikan laporan kegiatan tahunan IPK Jatim di tahun 2016. IPK Jatim adalah satu-satunya, di luar IPK Pusat, yang memiliki situs aktif – sehingga anggota IPK Jatim dapat mengakses informasi secara rutin dari situs IPK Jatim. Selain itu, IPK Jatim merupakan wadah profesi psikolog klinis yang paling aktif dibandingkan dengan wadah profesi yang lain.

(2) Bagi anggota – untuk memberikan masukan bagi pengurus terkait aktivitas di tahun 2016 dan memberikan saran bagi pengembangan IPK Jatim di tahun depan.

Sambutan dari Sekjen HIMPSI Dra. Josephine Ratna, PhD., Psikolog

Sekjen HIMPSI menghimbau seluruh anggota IPK Jatim untuk lebih berperan aktif dalam pengembangan profesi, termasuk dengan mengurus SIK – HIMPSI (Sistem Informasi Keanggotaan; link: http://anggota.himpsi.or.id/) dimana anggota HIMPSI dapat mendaftarkan diri dan memperoleh data keanggotaan yang terbaru. Setiap anggota HIMPSI yang terdaftar akan memperoleh beberapa keuntungan, seperti: dikenali sesuai dengan kompetensinya dan memperoleh potongan harga ketika mengikuti pelatihan.

Penjelasan dari Ketua IPK Jatim Dra. Astrid Wiratna, Psikolog

1). Modul jabatan fungsional profesi psikolog sedang dalam proses pengolahan. Rencananya pada bulan April 2017, akan diadakan pelatihan jabatan fungsional yang pertama bagi psikolog Rumah Sakit level 1, khusus bagi rekan psikolog klinis yang bekerja di RS Negeri. Setelah menerima sertifikasi jabatan fungsional, rekan psikolog dapat mengikuti ujian kredensial terkait dengan kompetensi yang dimiliki.

2). Perlunya kesabaran dari setiap anggota IPK Jatim/HIMPSI terkait dengan pembenahan di dalam organisasi. Pertanyaan yang seringkali muncul adalah terkait dengan status STR anggota yang telah dikirimkan aplikasinya sejak tahun lalu. Saat ini, status STR anggota sedang dalam proses verifikasi dan pengecekan ulang terkait nama dan gelar anggota.

3) Tahun ini IPK Jatim belum mengadakan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan anggota. Diharapkan tahun depan, pengurus dapat memfasilitasi kebutuhan anggota akan pelatihan dengan lebih baik.

4) Laporan keuangan dari Bendahara IPK Jatim. Uang kas saat ini adalah sebesar Rp 55.000.000.-

****

Segenap pengurus IPK Jatim mengucapkan Selamat Natal 2016 bagi rekan-rekan yang merayakan dan Selamat Tahun Baru 2017 bagi kita semua. Semoga di tahun yang baru, kerjasama dan kolaborasi setiap anggota IPK Jatim dapat membawa kebaikan bagi kita bersama.

Art Psychotherapy (Pertemuan IPK 16/11/16)

A picture is worth a thousand words.

Art Psychotherapy. Gambar merupakan salah satu treatment yang menggunakan media, alat gambar, proses kreatif, dalam upaya mengatasi permasalahan psikologis individu. Gambar merupakan representasi kepribadian, perkembangan individu, dan konflik-konfliknya.

Bagaimanakah produk gambar dari klien perempuan korban KDRT? Seberapa efektif Penerapan Art Psychotherapy dalam mengurangi simtom depresi pada perempuan korban KDRT?

Temukan paparan studi kasusnya di pertemuan JKN IPK bulan ini pada:
Hari/tanggal:
Rabu, 16 November ’16
Waktu: 16.30-18.00
Narasumber: Chandrania Fastari, M.Psi., Psikolog

Materi dapat diunduh di link ini. (Tim IPK Jatim)

Edukasi Kekerasan Seksual pada Anak Melalui Permainan Edukatif (Pertemuan IPK 7/9/16)

APE (Alat Permainan Edukatif) merupakan alat bantu utama bagi Watiek Ideo, seorang penulis buku anak dan alumni psikologi UNAIR, dalam membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan kejahatan seksual. Ia tidak hanya memberikan bantuan bagi para korban, namun terlebih lagi, memberikan edukasi kepada anak-anak yang rentan mengalami kekerasan seksual.

img-20160908-wa0024

Melalui pengalamannya berinteraksi dengan anak-anak, Watiek menuliskan kisah dan pembelajaran yang ia peroleh dalam bentuk buku cerita anak yang interaktif. Ia juga mendesain sebuah permainan ular tangga raksasa yang dapat dimainkan oleh anak secara berkelompok. Tujuan utama yang ingin dicapai oleh Watiek adalah menyampaikan pesan-pesan perlindungan diri secara sederhana pada anak. Dengan bahasa yang mudah dipahami, orangtua juga tidak akan mengalami kesulitan dalam menggunakan APE atau buku cerita karangan Watiek.

img-20160908-wa0021

Apabila TS berminat untuk memesan APE atau buku cerita, silahkan menghubungi:

Watiek Ideo (Author)

+62 81 221 703 350

watiek.ideo@gmail.com

Semoga bermanfaat. (CE)

Psikofarmaka atau Psikoterapi? (Pertemuan IPK – PDSKJI 23/3/16)

Pada pertemuan IPK – PDSKJI kali ini, materi disampaikan oleh para psikiater dari PDSKJI Jawa Timur. Tema yang disampaikan merupakan materi yang selalu menjadi pertanyaan klien/pasien dan terkait dengan pemberian perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan klien/pasien.

Silahkan mengunduh materi di sini. Semoga bermanfaat (CE)

Disleksia: Asesmen and Penanganannya (Pertemuan IPK 10/03/16)

Simptom anak yang mengalami dyslexia kadangkala terbaur dengan simptom autisme. Perlu ketelitian dan kejelian psikolog dalam membedakannya agar tidak salah diagnosa.
Penegakan diagnosa dyslexia perlu didukung hasil pemeriksaan yang akurat yang berasal dari alat ukur yang tepat. Bila diagnosa sudah ditegakkan, bentuk terapi dapat ditentukan.
Apa saja alat ukur yang digunakan? Bagaimana intervensi terapi terkini bagi penderita dyslexia?
Bagi anggota IPK Jatim yang tidak dapat menghadiri pertemuan pada tanggal 10 Maret 2016, kami sediakan materi Disleksia – asesmen dan penangannya untuk diunduh.
Semoga bermanfaat. (NK/CE)